Promo
Tahunan
×
Showing posts with label Satwa. Show all posts
Showing posts with label Satwa. Show all posts

'Monster buaya' di Florida ditembak usai memangsa sapi

Seorang pemburu di Amerika Serikat menceritakan kisahnya kepada BBC setelah menembak seekor buaya seberat 360 kilogram yang tengah menyantap sapi di peternakannya.

Pemburu profesional Lee Lightsey mengatakan binatang sepanjang 4,5 meter itu merupakan salah satu buaya terbesar yang dia temukan dalam 18 tahun dan diperlukan sebuah traktor untuk memindahkannya.

Lightsey bersama seorang pemandu berburu, Blake Godwin, menemukan buaya itu di dalam kolam ternak saat mengawasi perburuan, pada Sabtu (2/4).

Ketika makhluk itu muncul sekitar enam meter dari mereka, mereka pun menembaknya.

"Meski hewan ini sangat besar, saya tidak terkejut karena itu memang ada," kata Lightsey.

"Kami sudah banyak menemukan hewan semacam itu selama 20 tahun terakhir tapi ukurannya sedikit lebih kecil.

"Tapi apa yang benar-benar menarik perhatian kami terhadap hewan ini adalah, fakta bahwa dia tampaknya telah memangsa sapi di peternakan saya, karena bagian tubuh yang dimakan ditemukan di dalam kolam. Hewan itu adalah monster yang harus dibunuh."

Lightsey mempunyai perusahaan yang menangani perburuan binatang-binatang seperti buaya, babi hutan dan kalkun di area pertanian miliknya yang dijadikan tempat berburu.

Sebelumnya, buaya terbesar yang pernah dibunuh sepanjang empat meter. Bayaran yang dia peroleh bervariasi tergantung ukuran buaya yang dibunuh.

Dia dibayar sebesar US$10.000 (atau sekitar Rp132 juta) untuk membunuh buaya yang lebih besar sepanjang 4 meter.

Sedangkan untuk membunuh buaya berukuran tiga meter dia dibayar sebesar US$4.500 (atau sekitar Rp59 juta). Hewan-hewan itu sebagian besar dibunuh dengan senapan kaliber besar.

"Tapi kami selalu meminimalisir penderitaan hewan-hewan buas itu saat kami membunuhnya. Sebisa mungkin buaya-buaya itu tidak terluka sebelum mati," katanya.

Ada ratusan buaya untuk para pemburu, ukurannya berkisar tiga meter, katanya, sementara binatang-binatang buas yang tingginya lebih dari tiga meter hanya ditemui sekitar setahun sekali.

Lightsey sendiri telah mengkomersilkan perburuan buaya sejak dia mulai "memanen" buaya-buaya itu sejak tahun 1988.

Sekitar 5.000 buaya yang panjangnya lebih dari 1,5 meter telah dibunuh sejak saat itu.

Buaya-buaya di Amerika mendiami bagian tenggara. Negara Bagian Florida dan Louisiana dilaporkan memiliki populasi hewan buas ini, masing-masing lebih dari satu juta buaya.

Bagian selatan Florida terkenal sebagai satu-satunya tempat di dunia di mana buaya hidup saling berdampingan dalam lingkungan air tawar seperti sungai, danau dan rawa-rawa.

Lightsey mengatakan dia berencana untuk menguliti alligator ini dan menyumbangkan dagingnya ke sebuah badan amal.(BBC)

Bisnis Gelap Gading Gajah di Aceh

KASKUS -  Nukilan sejarah soal raja-raja Aceh tempoe doeloe mengasihi gajah, membuat masyarakat di Serambi Makkah memuliakan satwa berbadan bongsor ini. Sampai-sampai, orang Aceh turun-temurun memberi sebutan gajah dengan “Poe Meurah”, yang berarti Raja Mulia.

Hingga akhir era 1990-an, budaya bersahabat dengan gajah ini masih cukup kental di Aceh. Saat itu jarang terdengar ada gajah mati dibunuh. Tapi, satu dekade kemudian, situasi berbalik nyaris 180 derajat. Puluhan gajah Aceh atau Sumatera ditemukan mati mengenaskan. Sebagian diracun dengan dalih hama, dan sebagian lagi sengaja dibantai demi gading.

Tim menelusuri penjualan gading di pasar ‘gelap’ yang mencapai Rp50.000 per kilogram  menggiurkan segelintir orang untuk nekat memburu Poe Meurah. Gajah itu dibunuh keji di hutan lindung Desa Alue Ie Mirah, Kec Indra Makmu, pedalaman Kabupaten Aceh Timur, Jumat lalu. Seekor gajah jantan dewasa diberondong dengan tiga pucuk senjata SS1 di bagian kepala, lalu gadingnya diambil untuk dijual

Tidak lama polisi membekuk pelaku pada hari yang sama dengan barang bukti dua bilah gading. Panjang gading itu, masing-masing 73 centimeter. Tiga pelaku di antaranya pria sipil. Dua dari Desa Blang Seunong Kec Pante Bidari, Aceh Timur dan satu warga Desa Tanah Merah, Kec Langkahan, pedalaman Aceh Utara. Sedangkan seorang lagi, yang diduga sebagai otak pelaku sekaligus penyedia senjata, oknum anggota TNI dari Yonif 113/Jaya Sakti, Bireuen.

Dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Idi, Aceh Timur, tiga pelaku sipil, dituntut jaksa hukuman masing-masing satu tahun penjara. Tapi, Majelis Hakim yang diketuai Rahmat Aries dibantu Hakim Anggota Nurrahmi dan Rizal Firmansyah hanya memvonis ketiga terdakwa masing-masing enam bulan penjara pada Februari 2012.

Di sisi lain, kasus pembunuhan terhadap gajah liar di Aceh Timur terus menggila. Sepanjang 2012 hingga 2015 tercatat  ada 12 ekor gajah liar ditemukan mati. Salah satu kasus melibatkan mafia pemburu gading pada kasus penemuan dua bangkai gajah jantan di areal kebun sawit PT Dwi Kencana, Jambo Reuhat, Kec Banda Alam, September lalu. Tak jauh dari lokasi bangkai, ditemukan dua selongsong peluru.

Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alama (BKSDA) Aceh, Genman S Hasibuan, mengakui ada campur tangan sindikat mafia gading gajah dalam kasus kematian gajah Sumatra di Aceh. Tapi, persentase keterlibatan mereka kecil. Kebanyakan, gajah di Aceh mati karena konflik dengan manusia, khususnya konflik dengan masyarakat pekebun dan petani.

“Rata-rata mati karena diracun. Kalau pun kemudian ada gading gajah yang hilang setelah mati diracun, itu lebih kepada mumpung ada kesempatan. Bukan terencana. Kalau yang khusus diburu untuk diambil gadingnya, catatan kita cuma beberapa kasus saja,” kata Genman.

“Lagi pula, Aceh ini beda dengan daerah lain. Gajah dianggap satwa mulia di Aceh. Kalau ada orang terang-terangan memburu gajah demi gading, pasti ditentang masyarakat banyak. Pemburu gading di Aceh ada, tapi ruang geraknya sempit,” urai Genman.(Waspada)

Ikan Aneh Berkaki yang Hebohkan Selandia Baru

Baru baru ini, warga Selandia Baru, terutama di sekitar Bay of Islands, dihebohkan oleh penemuan ikan yang tergolong aneh. Ikan tersebut hitam legam, berduri, dan memiliki kaki di bagian kedua sisi perutnya. Bentuk sirip yang mirip kaki itu memungkinkan si ikan bisa menggunakannya untuk berjalan di dasar laut.

Ikan aneh ini ditemukan oleh Claudia Howse, Glenys Howse, dan James Beuvink saat berjalan di teluk tersebut. Mereka terkejut saat melihat ikan hitam di tumpukan rumput laut yang berada di perahu. Mereka membawa ikan ajaib yang sudah mati itu ke Museum of New Zealand Te Papa Tongarewa untuk diidentifikasi, sebagaimana dilansir dari IFL Science.


Ikan aneh Selandia BAru 2

Ikan aneh yang diduga merupakan jenis anglerfish. Foto atas dan bawah: Museum of New Zealand Te Papa Tongarewa
Ikan aneh yang diduga merupakan jenis anglerfish. Foto atas dan bawah: Museum of New Zealand Te Papa Tongarewa

Pihak pengelola museum mengakui, wujud ikan tersebut memang aneh. Museum pun mengunggahnya di akun Facebook dan mendapatkan perhatian dari peneliti dan pengguna internet. Di akun Facebook mereka, hanya ditulis “ikan berkaki” dan kemungkinan besar adalah salah satu species Frogfish (ikan katak).

Peneliti yang mempelajari ikan tersebut akhirnya mengkonfirmasi bila ikan aneh tersebut merupakan Antennarius striatus atau anglerfish. Andrew Stewart, salah satu peneliti di museum tersebut mengaku sejak awal sudah menduga bahwa ikan tersebut jenis anglerfish. Namun peneliti butuh waktu beberapa hari untuk memastikan dugaannya. “Biasanya, spesies ini punya karakteristik pola bergaris, tapi ikan yang ditemukan ini hampir seluruhnya berwarna hitam” kata sang peneliti yang dipost di akun facebook.

Ikan jenis ini biasanya “berjalan” dan mengendap-ngendap di dasar laut untuk mencari mangsa. Dengan sirip unik nya, ia mampu bernavigasi dengan cara menggerakan sirip layaknya makhluk yang mampu berjalan.

Untuk mengelabui mangsa, ikan ini diam menunggu, lalu membuka mulutnya lebar-lebar untuk memasukkan mangsa yang seukuran tubuhnya.


Karakteristik ikan katak (frogfish). Sumber: Frogfish.ch
Karakteristik ikan katak (frogfish). Sumber: Frogfish.ch

Di postingan Facebook, para peneliti menyatakan bahwa ikan ini mempunyai gigitan tercepat di antara vertebrata lain. Mulut mereka bisa terbuka lebar mendekati kecepatan peluru 0.22, di medium yang 800 kali lebih padat dari udara.

Para peneliti coba mendalami lebih lanjut ikan tersebut sekaligus untuk mengetahui apakah ada golongan ikan aneh seperti itu. Penelitian juga dilakukan untuk mengetahui apakah ikan tersebut punya spesies baru, atau subspesies.

“Sampel jaringan ikan ini akan membantu menjawab teka-teki tersebut” pungkas Stewart.
Ikan aneh yang menghebohkan Selandia Baru. Foto: Claudia Howse, Glenys Howse and James Beuvink/Museum of New Zealand Te Papa Tongarewa

Polda Aceh-WWF optimalkan pemberantasan perdagangan satwa

KASKUS - Kepolisian Daerah (Polda) Aceh dan WWF Indonesia menandatangani nota kesepahaman untuk mengoptimalkan penegakan hukum pemberantasan kejahatan perdagangan satwa dilindungi.

Usai penandatanganan MoU di Jakarta, Jumat, Direktur Eksekutif WWF Indonesia Efransjah mengatakan perdagangan satwa dilindungi di Indonesia termasuk besar, nomor lima di dunia setelah perdagangan narkoba, manusia, dan senjata api, bahkan telah masuk ke ranah pembiayaan untuk terorisme.

"Kita wajib melindungi satwa ikonik yang ada di Aceh seperti harimau sumatera, orangutan, badak, dan gajah agar anak cucu kita masih dapat melihat dan mempelajari satwa ini ke depannya," kata Efransjah.

WWF Indonesia akan membantu kepolisian dalam proses identifikasi DNA, forensik, dan informasi lainnya.

Kapolda Aceh Irjen Polisi M Husein Hamdi mengatakan perdagangan satwa liar tidak hanya melalui perdagangan konvensional, yang mempertemukan penjual dan pembeli, tapi juga melalui media sosial.

"Kejahatan terhadap satwa liar ini termasuk salah satu kasus yang tinggi tingkat kejadiannya, seperti yang baru-baru ini terjadi yaitu penangkapan pedagang awetan macan dahan, elang bondol, burung kuau raja dan orangutan Sumatera yang dilakukan melalui media sosial," katanya.

Pada acara penandatanganan nota kesepahaman tersebut di Jakarta hadir Wakapolda Aceh BrigJen Pol Rio S Djambak, Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Ngadino, dan Direktur Ditreskrimsus POLRI Kombes Pol Joko Irwanto.

Juga turut hadir Direktur Penegakan Hukum Pidana Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, dan Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser.

Ia berharap dengan adanya kesepahaman ini tingkat kematian satwa dilindungi, khususnya di wilayah Aceh, menurun.

Pada 2014, Polda Aceh menangani tujuh kasus kejahatan satwa liar yang dilindungi dengan jumlah tersangka 20 orang dan tiga kasus pada 2015 dengan jumlah tersangka delapan orang.

Kasus-kasus tersebut mayoritas adalah penangkapan pedagang harimau sumatera dalam bentuk kulit, tulang dan lainnya, termasuk pembunuhan gajah dan perdagangan orangutan hidup.

Bukti keseriusan Polda Aceh untuk memberantas kejahatan perdagangan satwa dilindungi juga dibuktikan dengan dibukanya saluran pengaduan bagi masyarakat Aceh yang mengetahui atau melihat kejahatan terhadap satwa dilindungi.

Aduan tersebut dapat dikirimkan melalui SMS ke 08116771010.

Sumber: antara.com

Atasi Konflik Gajah, CRU di Aceh Terus Ditambah

Upaya penanganan konflik gajah dengan manusia harus dicarikan solusinya agar tidak meluas dan meningkat. Foto: Junaidi Hanafiah
KASKUS - Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Genman Hasibuan, menuturkan, salah satu solusi mitigasi konflik gajah dengan manusia adalah dengan mendirikan Conservation Response Unit (CRU) di wilayah rawan konflik.

“Dari beberapa daerah yang konfliknya tinggi, CRU baru didirikan di lima daerah, yaitu, di Kecamatan Manee (Kabupaten Pidie), Kecamatan Sampoiniet (Trumon), Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Utara, dan terakhir di Serbajadi (Kabupaten Aceh Timur). Dalam waktu dekat, CRU juga akan didirikan di Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Barat.”

Genman mengatakan, penanganan konflik gajah dengan mendirikan CRU, meskipun bukan satu-satunya solusi, tapi sangat bermanfaat, baik untuk masyarakat maupun gajah. Selain dapat menghindari konflik, keberadaan CRU juga membantu menyelamatkan gajah dari pemburuan dan pembunuhan. “Munculnya konflik, karena gajah dan manusia sama-sama membutuhkan lahan landai dan datar.”

Diperkirakan, jumlah gajah sumatera di Aceh saat ini antara 450-500 individu yang tersebar di 20 kabupaten/kota di Aceh. “Hanya di Kota Banda Aceh, Sabang, dan Kabupaten Simeulue yang tidak ada gajah,” ungkap Genman, belum lama ini.

Bupati Aceh Timur, Hasballah HM Thaib mengatakan, untuk menjaga agar gajah sumatera tidak punah, seluruh lapisan masyarakat termasuk perusahaan perkebunan harus bersama melindunginya. “Jangan bunuh gajah, terlebih untuk diambil gadingnya. Kita harus menjaga gajah agar keseimbangan alam tetap terjaga.”

Hasballah menyebutkan, Pemerintah Aceh Timur bekerja sama dengan berbagai pihak telah mendirikan CRU di Desa Bunin, Kecamatan Serbajadi. Selain itu, telah didatangkan juga empat gajah jinak yang akan ditempatkan di CRU tersebut. “Tahun ini, kita akan melakukan penggiringan gajah liar dari lokasi konflik ke hutan yang telah disiapkan, sekitar 5.500 hektare.”

Setelah gajah liar tersebut digiring ke hutan, akan dibangun parit buatan yang menyambung dengan parit alam, sehingga gajah tetap berada di habitatnya. “Namun, program ini tidak bisa terwujud jika tidak melibatkan semua pihak. Untuk itu, kami meminta pemilik hak guna usaha (HGU) di Aceh Timur, Pemrov Aceh, dan pemerintah pusat ikut berpartisipasi,” sambung Hasballah.

Perwakilan Forum Konservasi Leuser (FKL), Rudi Putra mengatakan, rencana pembangunan CRU di Serbajadi sudah ada sejak 2007, namun baru terlaksana di 2015. “Kami dari FKL dan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh terus memfasilitasi agar CRU segera didirikan karena konflik antara gajah dengan manusia di Aceh Timur cukup tinggi.”

Rudi mengatakan, lokasi yang dicadangkan untuk gajah liar sangat penting dijaga. Walau wilayahnya kecil, tetapi masih tersambung dengan 300,000 hektare kawasan hutan lainnya seperti cagar alam, hutan produksi, hutan lindung dan taman nasional.

“Bahkan bila ada koridor, kawasan ini akan tersambung dengan hutan di bagian utara hingga ke Aceh Utara dan Bener Meriah dengan luas total mencapai 600,000 hektare. Wilayah  ini merupakan bagian terakhir hutan dataran rendah yang tersisa di Pulau Sumatera dengan keragaman hayati yang tinggi.”

Rudi juga menjelaskan, setidaknya 8.000 hektare lahan di Aceh Timur mengalami kerusakan akibat konfik ini. Masyarakat frustasi sehingga ditemukan perilaku meracun, menjerat, dan memasang listrik tegangan tinggi untuk menghalangi gajah masuk kebun. “Di wilayah rawan konflik, masyarakat harus merubah pola tanaman dari kelapa sawit ke tanaman lain yang tidak disukai gajah tetapi memiliki nilai komersil tinggi seperti kopi dan lainnya,” ujarnya.

Sumber: Mongabay

Saree Perlu Ditetapkan Sebagai Destinasi Agrowisata Aceh

KASKUS - Potensi alam dan keanekaragaman hayati yang dimiliki Saree, puncak Gunung Seulawah, Kabupaten Aceh Besar patut diberi apresiasi dalam mendorong pariwisata Aceh.

Ketua Kelompok Sadar Wisata Saree, Muhammad T. Is mengatakan, hingga saat ini belum ada satu pihakpun yang menetapkan Saree sebagai kawasan Agrowisata Aceh.

“Saree memiliki wisata Alam yang cukup menantang, ada Puncak Seulawah Agam, Seulawah Inong, Hutan Wisata, Tempat Pelatihan Gajah, Wisata Agro Techno park, menjadi destinasi untuk disambangi,” ujar M. T. Is, Sabtu (16/1/2016).

Mantan Pembina PNPM Desa Mandiri Pariwisata Disbudpar Aceh Besar ini menambahkan setiap hari minggu, ramai orang berkunjung ke Saree untuk menikmati alam dan kuliner.

“Saya berharap Pemerintah Aceh segera menjadikan Saree sebagai kawasan Agrowisata Aceh,” pinta M. T. Is.

Rekannya yang lain, Muhammad Amin SP juga sependapat agar Saree, yang terkenal dengan pertanian, perkebunan dan peternakan terpadu satu-satunya di Aceh menjadi kawasan Agrowisata Aceh.

Kepala Balai Diklat Pertanian Saree, Ahdar MP mendukung inisiatif tersebut. “Kawasan Agrowisata ini akan didukung dengan menyambut PENAS Aceh 2017. Kita sudah siapkan Masterplan Agrowisata Saree tersebut,” ungkapnya.

Sumber: acehterkini.com

Aceh dan Bengkulu, Lokasi Terbanyak Konflik Harimau-Warga

Bengkulu - Konflik antara harimau sumatera dan penduduk lima tahun terakhir ini banyak terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Bengkulu.

"Dalam kurun waktu lima tahun telah terjadi 395 konflik antara harimau sumatera dan manusia di 9 provinsi di Sumatera," kata Manajer Kampanye Walhi Bengkulu Sony Taurus, dalam rilisnya Selasa, 12 Januari 2016.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bengkulu mendata konflik itu. Di Aceh terjadi konflik sebanyak 106 kasus, Bengkulu 82 kasus, Jambi 70 kasus, Lampung 47 kasus, Riau 26 kasus, Ulu Masan Aceh 15 kasus, Sumatera Utara 11 kasus, dan Sumatera Selatan 12 kasus.

Tingginya konflik harimau dengan manusia tersebut, kata dia, disebabkan oleh rusaknya kawasan hutan akibat perkebunan skala besar dan pertambangan.

Seperti habitat kunci harimau sumatera di Taman Buru Semidang Bukit Kabu di Kabupaten Bengkulu Tengah dan Seluma, yang telah mengalami kerusakan yang cukup parah. 

Luas Semidang Bukit Kabu tercatat 9.035 hektare, dan 75 persen di antaranya rusak dan gundul. "Seperti diketahui saat ini ada enam perusahaan tambang di kawasan itu," ujar Sony.

Sony menyebutkan, berdasarkan data BKSDA, terdapat 57 harimau turun gunung di Bengkulu dengan perincian 40 ekor berkeliaran di wilayah hutan Kabupaten Bengkulu Utara, Lebong, dan Rejang Lebong. 

Sebanyak 12 ekor berkeliaran di wilayah hutan Kabupaten Kepahiang, Bengkulu Tengah, dan Seluma, serta 5 ekor lagi berkeliaran di Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kaur.

Konflik manusia dan harimau di sekitar kawasan Semidang Bukit Kabu cukup tinggi. Dalam dua tahun terakhir ada 7 warga yang dimangsa harimau, yakni 5 orang warga Desa Sekalak dan 2 orang warga Desa Talang Beringin. 

Tidak hanya itu, harimau juga mengancam masyarakat di desa sekitar Taman Buru Semidang Bukit Kabu, yaitu Desa Lubuk Resam, Talang Beringin, Puguk, Sekalak di Kabupaten Seluma dan Desa Kuta Nyiur di Kabupaten Bengkulu Tengah. 

Sony mendesak pemerintah daerah merespons cepat kondisi kritis beberapa hutan di daerah itu. Polisi diminta menindak tegas pemburu, penjual, dan pembeli organ harimau sumatera.(Tempo)

Populasi gajah sumatera susut bersama menyempitnya hutan

Satu gajah sumatera (Elephas Maximus Sumatrensis) mati di area perkebunan PT Bumi Flora Desa Jamboe Reuhat, Kecamatan Banda Alam, Aceh Timur, Aceh, Kamis (3/9). (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)
KASKUS - Populasi gajah sumatera di Aceh menyusut bersama menyempitnya luas hutan karena alih fungsi hutan menjadi perkebunan dan pembalakan liar menurut organisasi konservasi World Wildlife Fund (WWF) Indonesia.

Staf komunikasi WWF di Aceh, Chik Rini, populasi gajah sumatera di Aceh sudah menyusut hampir 50 persen dalam 25 tahun terakhir.

Menurut dia populasi gajah sumatera di Aceh sebelumnya sekitar seribuan namun mulai menurun tahun 1990an dan kini tinggal sekitar 500 individu.

"Lahan di hutan sudah semakin berkurang karena disulap menjadi perkebunan sawit, akibatnya populasi gajah sumatera semakin lama bisa semakin hilang," katanya.

Ia menambahkan sekarang jalur-jalur jelajah gajah banyak yang sudah beralih fungsi, antara lain menjadi lahan perkebunan, membuat mereka sulit bertahan hidup.

Chik Rini berharap semua pihak berperan aktif memulihkan kembali jalur jelajah gajah agar populasi gajah sumatera tidak terus turun dan konflik antara gajah dan manusia tidak terjadi lagi.

"Alam yang sudah ada ini harus bisa kita jaga dengan baik, begitu juga dengan jalur jelajah gajah, jangan diganggu. Kalau kita bisa saling menjaga, maka tidak akan pernah terjadi konflik gajah dengan manusia," katanya.

Dia juga mengimbau pemerintah memperketat pemberian izin penggunaan kawasan hutan untuk perkebunan.hindari konflik gajah dengan manusia dan bisa juga bisa menjaga populasinya.

"Pemerintah jangan terlalu mudah memberikan izin bagi perusahaan di sektor perkebunan," katanya.(ANTARA)

Kawanan Gajah Liar Dekati Jalan USAID di Aceh Jaya

Kaskus - Mengamuknya kawanan gajah liar yang mengobrak-abrik kebun kelapa sawit milik warga seperti tidak bisa terbendung lagi, saat ini bahkan sudah masuk hingga ke perkampungan.

Bahkan, di kawasan Lhok Geulumpang, Kecamatan Setia Bakti, Aceh Jaya pada Minggu (3/1/2016) malam dilaporkan sudah mendekati jalan USAID lintas Banda Aceh-Calang.

Keberadaan gajah liar di Lhok Geulumpang sudah hampir satu pekan di kawasan itu. Hewan berbelalai itu terus merusak kebun sawit warga hingga malam ini.

"Kawanan gajah liar masih berada di perkebunan warga kawasan Alue Meudang, Desa Lhok Geulumpang, dengan jarak dari jalan USAID sekitra 500 meter," kata Ibnu Abbas, Camat Setia Bakti kepada Serambinews.com.

Modus Perdagangan Satwa Makin Canggih dan Terorganisir

Orangutan Kalimantan di PPS Tasikoki, Sulawesi Utara. Foto: Tommy Apriando
Sepanjang 2015, kasus perdagangan satwa liar terus terjadi. Penilaian Centre for Orangutan Protection (COP), kejahatan menggunakan metode lebih modern (via online) dan terorganisir baik. Dalam catatan akhir tahun, COP menyebutkan, dalam lima kali penggerebekan, ada 50 satwa dilindungi diperjualbelikan.

Daniek Hendarto, Manajer COP wilayah Jawa-Sumatera kepada Mongabay mengatakan, dari lima kasus ditangani COP, tiga ada putusan pengadilan. Putusan huku maksimal dua tahun untuk pedagang orangutan di Aceh, terendah tujuh bulan buat pedagang elang di Surabaya. “Kita berharap hukuman maksimal lima tahun dapat diterapkan pada semua pelaku kejahatan ini. Dengan hukuman maksimal akan menjadi catatan positif dalam upaya perlindungan satwa liar di Indonesia,” katanya.

Dalam perdagangan online, katanya, modus operasi mereka, yakni, kelompok pedagang membuat grup komunikasi pedagang dalam sosial media Facebook dan transaksi tanpa tatap muka langsung. Dalam perdagangan online, baik melalui Facebook atau lainnya pedagang melengkapi grup jualan dengan sarana transaksi bersama atau sering disebut rekber (rekening bersama) hingga lebih aman.

Cara kerjanya, rekber menjadi pihak ketiga dalam transaksi, menjembatani pedagang dan pembeli. Kala pedagang dan pembeli sepakat, pembeli mengirimkan uang menuju rekber dan penjual mengirimkan satwa menuju pembeli. Jika pembeli sudah menerima satwa dan sesuai spesifikasi, pembeli konfirmasi kepada rekber. Rekber akan mengirimkan uang ke rekening penjual. Dalam grup pedagang online ini biasa ada jasa pengiriman satwa khusus.

“Majunya teknologi bagaikan dua mata pisau berbeda, bisa berbahaya mendukung kejahatan bisa membantu mendukung konservasi satwa,” katanya.

Catatan COP menyebutkan, bisnis satwa liar online sangat besar, sistematis dan terorganisir baik. Penjualan satwa, mulai orangutan, beruang, harimau sampai bagian tubuh gajah.

Contoh, harga bayi orangutan, ketika masih hutan Kalimantan atau Sumatera Rp2 juta-Rp5 juta. Kala sampai di Jawa harga bisa Rp50 juta-Rp70 juta, beda lagi jika diselundupkan ke luar negeri harga bisa 10 kali lipat. Jadi, katanya, bisnis ini subur karena perputaran uang sangat besar.

Sepanjang 2015, COP bersama aparat beberapa kali operasi penyitaan dan mendorong penegakan hukum, seperti 21 Februari 2015, Dittipiter Bareskrim Mabes Polri dibantu COP dan JAAN menggrebek pedagang satwa di Kampung Balong Desa Gandamekar, Kadungora, Garut, Jawa Barat. Tim menangkap pedagang bernama Dicky Rusvinda dan mengamankan 18 jenis satwa dilindungi berjumlah 33 ekor seperti orangutan, beruang madu, tarsius, rangkong, julang emas, kus kus beruang, yaki, kakatua jambul, kucing hutan dan banyak lagi.

Untuk menekan perdagangan satwa liar makin marak di media online, COP menyarankan perlu sistem pengawasan ketatb aparat terkait.

Kejahatan ini, kata Daniek, subur manakala pengawasan dan penegakan hukum tak tegas dan berani. Menurut dia, sudah waktunya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memberikan tekanan kepada pengelola jejaring sosial untuk membuat sistem portal menekan kejahatan ini.

Saat ini, bisa dikatakan perdagangan satwa liar online menggeser pola perdagangan konvensional. Kejahatan ini, mudah dilakukan dan sulit terpantau petugas.

COP meminta, menetapkan kejahatan satwa liar menjadi prioritas penanganan pemerintah. “Ini kejahatan serius, aparat penegak hukum dan pemerintah selayaknya bertindak serius.”

.Mongabay

Aceh Jaya Kembangkan Wisata Alam Gampong Gajah

Kaskus - Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh, sedang merintis pengembangan wisata alam Gampong Gajah (Desa Gajah) Sumatera sebagai upaya mendekatkan masyarakat bersahabat dengan alam.

Bupati Aceh Jaya Azhar Abdurrahman di Calang kepada Antara, Kamis (24/12/2015) mengatakan, rencana pengembangan wisata alam tersebut tentunya mendapat dukungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh yang akan menyiapkan fasilitas sarana dan prasarana.

"BKSDA yang akan menyiapkan fasilitas sarana dan promosi 'wisata alam gampong gajah' melalui media terus kita lakukan untuk meningkatkan kunjungan pihak yang suka dengan habitat hutan Gajah Sumetera silakan kunjungi CRU Ie Jeurengeh Aceh Jaya," katanya usai peresmian Base Camp Conservations Respon Unit (CRU) Ie Jeueungeh, Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya.

Menurut dia, konflik satwa gajah dengan manusia sangat rentan terjadi di kawasan perkampungan berjarak sekitar 16 kilometer dari jalan lintas Provinsi Aceh tersebut, kondisi itu harus ditanggulangi untuk dimanfaatkan dengan lebih baik.

Dengan adanya pengelolaan yang baik, maka diyakini akan mampu menjadi salah satu aset pendapatan daerah serta pengembangan ekonomi masyarakat pedalaman yang selama ini merasakan penderitaan akibat konflik dengan satwa.

Kata Azhar, suatu kawasan yang di diami oleh satwa gajah yang biasa disebut dalam bahasa Aceh "Tengku Rayek", maka tempat tersebut mendapat sebuah keberkahan, hanya saja apabila terjadi perselisihan dengan masyarakat harus ada sebuah penyelesaian yang arif.

Satwa Gajah hidup di hutan yang memang merupakan habitat alaminya, sementara masyarakat juga membutuhkan area untuk pengembangan usaha perkebunan maupun pemukiman penduduk, karena itu solusinya harus ada pihak yang menjadi juru runding.

"CRU inilah yang kita harapkan menjadi juru runding masyarakat dengan gajah, pada akhirnya terjalin perdamaian sehingga bisa hidup berdampingan. Bila masyarakat lokal sudah berdamai dengan satwa gajah tentunya ini menjadi modal, orang lain juga akan datang untuk melihat dan bersahabat dengan satwa yang ada di sini," jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan, berkenaan dengan pengelolaan wisata alam gampong gajah ini dikalaborasikan, pemda mempersiapkan berbagai kebutuhan fasilitas infrastruktur jalan dan sebagainya, sementara BKSDA tentunya menjadi garda terdepan.

Selain itu dirinya juga berharap ada dunia usaha lain terutama yang bergerak disektor perkebunan seperti yang diwujudkan oleh PT Astra Agro Lestari, investor lain juga diharapkan dapat menyusul untuk mewujudkan kepedulian terhadap keseimbangan lingkungan tentunya dengan ikut serta dalam menjaga pengendalian satwa gajah.

Dengan adanya kepedulian, maka manajemen perkebunan pun akan merasa nyaman tidak terganggu dalam aktivitas karena konflik satwa, demikian halnya pemerintah dan masyarakat tidak dirugikan akibat konflik demikian.

Azhar menyampaikan, persoalan konflik masyarakat dan satwa dilindungi Undang-Undang tersebut selama sedikit banyak sudah merugikan kedua belah pihak, ada gajah yang mati demikian juga manusia ada yang korban jiwa serta harta benda tidak ternilai.

"Harapan kita kalau bisa CRU yang sudah ditempatkan, mereka tinggal disini masyarakat dapat datang melihat setiap saat gajah-gajah bermain. Disini juga dapat menjadi tempat edukasi bersahabat dengan alam," katanya menambahkan.

Sumber: Antara

Merajut Damai Bersama Sahabat Alam

Merajut Damai Bersama Sahabat Alam (ACEH.ANTARANEWS.COM)
Pada penghujung tahun 2015 Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh meresmikan satu unit Conseration Respon Unit (CRU) Sampoiniet di tengah hutan belantara berjarak sekitar 16 kilometer lintas Provinsi Aceh.

Untuk sampai ke lokasi CRU Sampoiniet, membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan apabila mengunakan kendaraan roda empat, melewati sejumlah pegunungan dan perkampungan penduduk dalam Kecamatan Sampoiniet.

Setelah melewati satu persimpangan, menelusuri jalan setapak yang dipenuhi lumpur serta jatuhan bongkahan tanah longsor disepanjang jalan.

Di sana akan terlihat relatif sangat banyak tanda kehidupan satwa liar di hutan, terutama adalah gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus).

Di kawasan itu juga sering ditemukan konflik satwa liar gajah sumatra dengan masyarakat. Kondisi tersebut dinyatakan sebagai satu bencana yang membutuhkan upaya mitigasi atau mempersiapkan masyarakat menghadapinya.

Sesampainya di lokasi dibentuknya Base Camp CRU Sampoiniet, belasan pemuda serta ada di antaranya pawang gajah sudah mengenakan seragam lengkap berwarna hitam, kemudian dilakukan ritual masyarakat Aceh "peusijuk" (tepung tawar) sebagai petanda bahwa sudah ada tim CRU penanggung jawab di kawasan itu.

Menurut catatan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh sepanjang 2015 tidak luput terjadi konflik satwa dengan masyarakat, sembilan individu gajah betina mati. Masyarakat pun menjadi korban jiwa dan harta benda.

Jumlah satwa gajah sumatra di Aceh diperkirakan tersisa 500--530 individu, jumlah ini diperkirakan seperempat dari populasi gajah sumatra di Indonesia yang diperkirakan masih bertahan antara 2.400 dan 2.800 individu.

Untuk itulah pemerintah vertikal dan horizontal dan dunia usaha berkumpul pada peresmian Base Camp CRU Sampoiniet tersebut sebagai langkah strategis dalam upaya konservasi sumber daya satwa liar di kawasan itu.

"Sepanjag 2015 hampir setiap hari itu saya mendapatkan laporan ada konflik satwa dengan manusia, memang tidak disayu lokasi, tetapi di 17 kabupaten/kota itu secara bergiliran bisa juga bersamaan. Satwa ada sembilan individu yang sudah mati, umumnya korban itu adalah betina dan itu anakan, dan juga korban dari sisi harta benda masyarakat sangat banyak," katanya.

Pada masa depan, satwa gajah kawasan itu akan dilokalisasi dihabitat alaminya dalam kawasan sanctuary yang dikelola pengamanan lintas yang menjadi pintu keluar masuk satwa gajah liar dari hutan ke kawasan budidaya.

Individu gajah liar akan dipasangkan kalung GPS Collar untuk memonitor pergerakan kelompok gajah liar, petugas CRU juga dilengkapi dengan gajah jinak untuk patroli merevitalisasi kearifan budaya.

Skema resolusi ini akan dilengkapi dengan pengembangan budi daya lebah madu bersama masyarakat karena lebah madu diyakini dihindari oleh gajah menurut hasil sebuah penelitian di Afrika.

Ia menyebutkan semua pihak harus ikut terlibat dalam upaya mitigasi konflik gajah dan manusia. Misalnya, di Aceh Jaya, BKSDA mendapat respons pertama dari kelompok dunia usaha PT Astra Agro Lestari yang peduli dengan kondisi sulit yang dialami masyarakat yang konflik dengan gajah.

"CRU Sampoiniet adalah ujung tombak yang sudah beroperai di Aceh untuk meredam konflik dan akan segara menyusul di wilayah lain, seperti Bener Meriah, Aceh Barat, dan Aceh Timur, insya Allah ke depan konflik satwa liar akan segera cepat ditangani,"imbuhnya.


Ikon Wisata

Pada saat bersamaan Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya akan merintis pola pengembangan kawasan konservasi satwa gajah sumatra di kawasan itu sebagai salah satu ikon wisata alam yang diberi nama "Gampong Gajah" karena terdapat jumlah individu gajah relatif cukup banyak.

Bupati Aceh Jaya Ir. Azhar Abdurrahman mengatakan bahwa pengembangan wisata alam Gampong Gajah Sumatra sebagai upaya mendekatkan masyarakat untuk bersahabat dengan alam serta menjadi pusat edukasi masyarakat luar bersahabat dengan alam.

Konflik satwa gajah dengan manusia sangat rentan terjadi di kawasan perkampungan berjarak sekitar 16 kilometer dari jalan lintas Provinsi Aceh tersebut. Kondisi itu harus ditanggulangi untuk dimanfaatkan dengan lebih baik.

Dengan adanya pengelolaan yang lebih baik, diyakini akan mampu menjadi salah satu aset pendapatan daerah serta pengembangan ekonomi masyarakat pedalaman yang merasakan penderitaan akibat konflik dengan satwa.

Menurut dia, suatu kawasan yang didiami oleh satwa gajah yang biasa disebut dalam bahasa Aceh "Tengku Rayek" maka tempat tersebut mendapat sebuah keberkahan, hanya saja bila terjadi perselisihan perebutan tempat tinggal maupun makanan dengan masyarakat harus ada sebuah penyelesaian yang arif.

Satwa gajah hidup di hutan yang memang merupakan habitat alaminya, sementara masyarakat juga membutuhkan area untuk pengembangan usaha perkebunan maupun permukiman penduduk. Oleh karena itu, solusinya harus ada pihak yang menjadi juru runding.

"CRU inilah yang kita harapkan menjadi juru runding masyarakat dengan gajah, pada akhirnya terjalin perdamaian sehingga bisa hidup berdampingan. Bila masyarakat lokal sudah berdamai, tentunya menjadi modal. Orang lain akan melihat dan bersahabat dengan satwa yang ada di Aceh," katanya.

Berkenaan pengelolaan wisata alam gampong gajah ini dikalaborasikan, pemda mempersiapkan berbagai kebutuhan fasilitas infrastruktur jalan dan sebagainya, sementara BKSDA tentunya menjadi garda terdepan.

Selain itu, diharapkan dunia usaha lain, terutama yang bergerak di sektor perkebunan, dapat mewujudkan kepedulian terhadap keseimbangan lingkungan tentunya dengan ikut serta dalam menjaga pengendalian satwa gajah.

Dengan adanya kepedulian bersama, manajemen perkebunan pun akan merasa nyaman tidak terganggu dalam aktivitas karena konflik satwa. Demikian halnya pemerintah dan masyarakat tidak dirugikan akibat konflik tersebut.

Persoalan konflik masyarakat dan satwa dilindungi undang-undang tersebut selama sedikit banyak sudah merugikan kedua belah pihak, ada gajah yang mati. demikian juga manusia ada yang korban jiwa serta harta benda tidak ternilai.

"Harapan kita kalau bisa CRU yang sudah ditempatkan, mereka tinggal di sini, masyarakat dapat datang melihat setiap saat gajah-gajah bermain. Di sini juga dapat menjadi tempat edukasi bersahabat dengan alam," katanya.

Pernyataan Azhar Abdurrahman tersebut sejalan dengan keinginan pemerintah pusat dalam hal ini Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, patut dicontoh sebagian daerah lain di Indonesia yang sudah mampu menerapkan.

Kasubdit Pengawetan Jenis dari Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) RI Puja Utama menyampaikan satwa gajah harus dilindungi karena populasinya makin terancam punah.

Untuk mempertahankan populasi gajah, pemerintah dihadapkan dengan tantangan berat karena habitat hidup gajah tersebut kurang lebih 85 persen berada di luar kawasan konservasi sehingga rawan terjadi konflik dengan manusia.

Dalam program pembangunan jangka menengah KLH dan Kehutanan RI mempunyai target untuk meningkatkan populasi 25 spesies satwa dilindungi yang kondisinya terancam punah sebesar 10 persen, termasuk gajah.

Puja Utama mengatakan bahwa pembangunan tersebut merupakan indikator keberhasilan di samping memiliki target dari paket kebijakan KLH dapat membangun satwa gajah sebanyak 50 jenis. Di Aceh merupakan salah satu lokasi dibangunnya sanctuary sebagai alternatif.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan 294 jenis satwa dan tumbuhan yang dilindungi undang-undang, tidak boleh ditangkap, tidak boleh buru, tidak boleh dimiliki, tidak boleh dimatikan, dan tidak boleh diperdagangkan.

"Kenapa dilindungi undang-undang? Karena populasi gajah dialamnya mengalami ancaman kepunahan. Harapan kita bersama suatu saat masyarakat dapat hidup berdampingan dengan satwa," katanya.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Jaya Tengku Saudi mengajak semua tokoh masyarakat mendukung program itu dan bersama-sama mengawal pelaksana program secara sungguh-sungguh sebagaimana direncanakan.

"Kami memuji langkah Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Jaya yang sigap menggandengkan program ini dengan program tambahan, yaitu program wanawisata," katanya.

Masyarakat Gampong sekitar juga menyatakan komitmen mendukung upaya pembentukan CRU ini sehingga diharapkan menjadi benteng pertahanan masyarakat dengan satwa liar yang hidup dialam.

"Dengan adanya tim CRU ini tentunya akan banyak masyarakat sudah berkebun kembali dan akan berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat Ie Jeureungeh," kata Geuchik (Kades) Ie Jeureungeh Khairil Anwar.

Gajah Sumatera di Aceh Tersisa 530 Ekor

Foto: Bustami
KASKUS - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mencatat populasi Gajah Sumatera selama tahun 2015 di 23 kabupaten/kota Provinsi Aceh hanya tersisa 500-530 ekor.

Kepala BKSDA Aceh Genman Suhefti Hasibuan di Calang, mengatakan populasi gajah Sumatera tersebut merupakan seperempat bagian dari total 2.400 ekor Gajah Sumatera yang tersebar di seluruh kawasan Indonesia.

"Berdasarkan data yang kita miliki dari pengamatan langsung saat pengiringan di lapangan, populasi gajah di Aceh masih tersisa sekitar 500 sampai 535 individu. Artinya kalau berdasarkan data secara keseluruhan 2.400, berarti seperempat dari jumlah gajah Sumatera ada di Aceh," katanya, kemarin.

Pernyataan tersebut disampaikan usai peresmian Conservation Respon Unit (CRU) Gampong Ie Jeureungeh, Mukim Pante Purba, Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya, acara tersebut turut dihadiri managerial PT Astra Agro Lestari sebagai pihak yang memfasilitasi penyediaan dibutuhkan BKSDA.

Dia menjelaskan, sepanjang 2015 konflik satwa liar gajah Sumatera dengan masyarakat terjadi pada 17 kabupaten/kota di Aceh dengan korban satwa gajah mati sebanyak sembilan individu dan umumnya berkelamin betina.

Karena itu untuk upaya mitigasi konflik satwa dengan masyarakat, Pemerintah Aceh sudah membentuk tim koordinasi lintas instansi serta satuan tugas disetiap kabupaten/kota yang berkonflik, hal itu juga didasari banyak masyarakat korban yang menanyakan pada BKSDA terkait ganti rugi apabila terjadi konflik satwa dan manusia.

"Kedepan kita harapkan kalau ada korban konflik instansi terkait dapat memberikan bantuan menurut tugas masing-masing, kalau kami bertugas dalam upaya pelestarian dan perlindungan gajah itu sendiri," sebutnya.

Sementara itu, Kasubdit Pengawetan Jenis dari Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) RI Puja Utama dalam sambutannya menyampaikan satwa gajah harus dilindungi karena populasinya semakin terancam punah.

"Kenapa dilindungi Undang-Undang?, karena populasi dialamnya mengalami ancaman kepunahan, salah satunya adalah satwa gajah Sumatera ini yang populasinya diperkirakan hanya 2.400 sampai 2.800 ekor," tegasnya.

Untuk mempertahankan populasi gajah pemerintah dihadapkan dengan tantangan berat karena habitat hidup gajah tersebut kurang lebih 85 persen berada di luar kawasan konservasi sehingga rawan terjadi konflik dengan masyarakat.

Untuk itu kata dia, dalam program pembangunan jangka menengah KLH dan Kehutanan RI mempunyai target untuk meningkatkan populasi 25 spesies satwa dilindungi yang kondisinya terancam punah sebesar 10 persen termasuk gajah.

Menurut Puja Utama, pembangunan tersebut merupakan indikator keberhasilan kementerian, di samping memiliki target dapat membangun satwa gajah sebanyak 50 jenis dan di Aceh merupakan salah satu lokasi dibangunnya sanctuary sebagai alternatif.

"Suatu saat kita mengharapkan masyarakat dapat hidup berdampingan dengan satwa, kemudian saya juga berharap setelah PT Astra Agro Lestari kedepan ada mitra lain yang ikut mendukung konservasi gajah ini," katanya.[OKZ]

Gajah Aceh Akan Punah?

KASKUS - Konon, gajah sumatera hidup hampir di seluruh wilayah di Sumatera. Namun, seiring waktu berlalu, populasi gajah sumatera semakin berkurang. Kini gajah Sumatera hanya  30 persen  di Sumatera. Provinsi Aceh merupakan wilayah yang paling banyak hidup gajah sumatera.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup, Bambang dalam Sidang Kaukus III Pembangunan Berkelanjutan Aceh, Selasa (22/12/2015) malam di Hotel Hermes Palace.

Menurut Bambang, gajah sumatera masih banyak karena konservasi binatang tersebut termasuk bagus di Aceh. Adat dan budaya masyarakat setempat salah satu faktor yang mendukung konservasi gajah.

"Gajah memiliki karakter unik, khas, dan endemik. Gajah harus seirama dengan masyarakat. Karena habitat gajah terganggu makanya gajah keluar dari habitatnya dan turun ke desa," kata Bambang dihadapan ratusan orang yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, konflik antara gajah dan manusia tidak mudah diatasi. Bambang khawatir jika konflik tersebut tidak selesai, gajah sumatera akan punah. Dari data yang ia tampilkan, pada 2007 ada 2.400-2.800 gajah sumatera. Namun jumlah itu terus menurun dari tahun ke tahun.

"Di Riau dari data WWF, lebih 100 individu gajah mati setiap tahun sejak 2004," tutur Bambang.

Sementara itu, Aceh masih memiliki hutan masih yang relatif luas sebagai habitat gajah, yaitu 3.557.916 hektare. Namun disayangkan Bambang karena konflik gajah dan masyarakat masih banyak terjadi di Aceh. Untuk itu, ia mengharapkan pemahaman dari semua pihak dalam menjaga konservasi gajah sumatera.

Dalam Permenhut nomor 48 tahun 2007, dituliskan mengenai pedoman penanggulangan konflik satwa liar. Isi dari peraturan menteri tersebut ialah gajah dan manusia sama pentingnya, kerjasama multi pihak, site specifik, dan skala minimum landscape.

"Solusi dari konflik ini, pengendalian pemanfaatan ruang dan penyiapan habitat baru sebagai lokasi tujuan penggiringan gajah. Dan restorasi habitat. Permasalahan konflik gajah tidak hanya tanggung jawab pemerintah semata tapi tanggung jawab bersama," ujarnya.

Selain itu, telah disusun Strategi Rencana Aksi Gajah Sumatera dan Kalimantan 2007-2017 yang didalamnya termasuk alternatif pembiayaan.[habadaily]

10 Monster Bawah Laut Prasejarah yang Menakutkan

  1. Beberapa makhluk prasejarah yang paling besar, paling menakutkan, paling luar biasa, hidup berjuta-juta tahun yang lalu.
    Selama 135 juta tahun, dinosaurus menjadi penguasa di muka bumi tanpa ada yang mengganggu, dan bisa jadi akan tetap menjadi penguasa di bumi di jaman ini jika bukan karena hantaman benda angkasa di bumi 65 juta tahun lalu.
    Namun, bukan berarti, hanya hewan darat yang menjadi terbesar, terkuat, dan paling menyeramkan di jaman itu. Hewan-hewan laut pun tak kalah besar dan kuatnya.
    Berikut ini adalah 10 monster bawah laut yang pernah menjelajahi samudera di masa prasejarah :
    1. Shastasaurus
Shastasaurus adalah predator laut yang tampak seperti lumba-lumba modern. Makhluk ini mampu mencapai ukuran besar selama periode Triassic lebih dari 200 juta tahun lalu.
Shastasaurus adalah spesies reptile laut terbesar yang pernah ditemukan, Hewan ini bisa mencapai panjang 20m, jauh lebih panjang daripada kebanyakan predator laut lainnya.
Tapi salah satu makhluk terbesar di lautan ini sebenarnya tak begitu mengerikan, makanannya adalah ikan-ikan yang berukuran kecil.
Dakosaurus , salah satu predator teratas di lautan selama sisa jaman Jurassic.  Sumber : istverse.wpengine.netdna-cdn.com
Dakosaurus , salah satu predator teratas di lautan selama sisa jaman Jurassic. Sumber : istverse.wpengine.netdna-cdn.com
2. Dakosaurus
Dakosaurus pertama kali ditemukan di Jerman dan dengan tubuh reptil ikan yang aneh, adalah salah satu predator teratas di lautan selama sisa jaman Jurassic.
Fosil-fosil dakosaurus ditemukan di banyak tempat di seluruh dunia, dari Inggris hingga Argentina.  Hewan ini sering dihubungkan dengan buaya modern, dan bisa mencapai panjang hingga 5 meter. Giginya yang besar membuat para ilmuwan meyakini bahwa hewan ini adalah predator puncak di masanya.
Thalassomedon, spesies pliosaurus yang dinamai yang berarti "dewa laut". Sumber : istverse.wpengine.netdna-cdn.com
Thalassomedon, spesies pliosaurus yang dinamai yang berarti “dewa laut”. Sumber : istverse.wpengine.netdna-cdn.com
3.  Thalassomedon
Thalassomedon adalah spesies pliosaurus yang namanya diambil dari bahasa Yunani yang berarti “dewa laut”. Sangat beralasan.   Mereka adalah predator besar, mencapai panjang hingga 12 meter, dengan sirip sepanjang hingga 2 meter, yang memungkinkannya berenang di laut dalam secara efisien sekaligus mematikan.
Hewan ini adalah predator puncak selama periode akhir masa Cretaceous ,  sebelum tempatnya diambil alih oleh predator baru yang lebih besar seperti Mosasaurus.
Nothosaurus merupakan hewan laut purba yang hidup selama periode Triassic lebih dari 200 juta tahun yang lalu. Sumber  :  listverse.wpengine.netdna-cdn.com
Nothosaurus merupakan hewan laut purba yang hidup selama periode Triassic lebih dari 200 juta tahun yang lalu. Sumber : listverse.wpengine.netdna-cdn.com
4.  Nothosaurus
Nothosaurus tergolong ‘monster’ yang kecil, panjangnya hanya sekitar 4 meter, namun dia adalah pemburu yang sangat agresif., bersenjatakan gigi-gigi yang tajam dan panjang.
Nothosaurus adalah monster yang ahli dalam menyergap mangsanya secara tiba-tiba. Para ahli memperkirakan  Nothosaurus terkait dengan Pliosaurs, varietas lain dari predator laut dalam. Bukti fosil menunjukkan bahwa mereka hidup selama periode Triassic lebih dari 200 juta tahun yang lalu.
Tylosaurus merupakan kadal laut  purba.  listverse.wpengine.netdna-cdn.com
Tylosaurus merupakan kadal laut purba. listverse.wpengine.netdna-cdn.com
5. Tylosaurus
Tylosaurus adalah kadal laut , bukan termasuk dinosaurus, Predator laut  dalam yang dominan di jamannya. Hewan ini mempunyai tubuh yang panjang ramping dengan permukaan atas berwarna gelap dan sisi bawah lebih terang, yang menyamarkan keberadaannya dalam air.
Binatang ini mengibaskan ekornya ke kanan dan kiri dan sisi lain sewaktu berenang.  Tylosaurus memiliki tengkorak yang panjangnya 1,75 m dengan rahang penuh gigi tajam berbentuk kerucut, yang dengan mudah merobek tubuh mangsanya.
Biasanya hewan ini makan kerang, plangton dan hewan kecil lainnya tapi dia juga menyukai daging . Di masa Kretaseus, populasi hewan ini tak begitu banyak.
Thalattoarchon Saurophagis merupakan spesies awal Ichthyosaurus . Sumber :  listverse.wpengine.netdna-cdn.com
Thalattoarchon Saurophagis merupakan spesies awal Ichthyosaurus . Sumber : listverse.wpengine.netdna-cdn.com
6. Thalattoarchon Saurophagis
Thalattoarchon Saurophagis bisa mencapai ukuran bis sekolah, panjangnya mencapai sekitar 9 meter.  Ini adalah spesies awal Ichthyosaurus yang hidup selama periode Trias, 244 juta tahun yang lalu.
Karena mereka hidup lama setelah kepunahan Permian (kepunahan massal terbesar bumi, ketika 95% dari kehidupan laut diperkirakan telah hancur), penemuannya  memberikan para ilmuwan wawasan baru tentang pemulihan ekosistem.
Tanystropheus merupakan reptile darat  berukuran 6 meter.  Sumber :  listverse.wpengine.netdna-cdn.com
Tanystropheus merupakan reptile darat berukuran 6 meter. Sumber : listverse.wpengine.netdna-cdn.com
7.  Tanystropheus
Tanystropheus adalah reptile darat yang bisa mencapai 20 kaki (6 meter) panjang. Hewan ini makanan utamanya dalah ikan, sehingga sering terlihat menyelam ke laut untuk mencari makanan, dan menghabiskan sebagian besar waktunya di air.  Hewan ini diperkirakan telah hidup selama periode Triassic hampir 215 juta tahun yang lalu.
Liopleurodon. Sumber : listverse.wpengine.netdna-cdn.com
Liopleurodon. Sumber : listverse.wpengine.netdna-cdn.com
8.  Liopleurodon
Liopleurodon termasuk dalam keluarga Pliosaur (reptil laut dari Periode Jurassic dan Cretaceous),  pemakan daging yang memiliki ukuran sangat besar, dengan panjang tubuhnya hingga 10 meter.
Raksasa ini memiliki empat kaki yang bentuknya menyerupai dayung yang besar dan kuat, membuatnya menjadi perenang yang baik dengan kecepatan yang luar biasa.
Liopleurodon dianggap sebagai penguasa laut pada jaman Jurassic dan Cretaceous awal karena termasuk dalam predator terbesar pada masanya.
Mosasaurus. Sumber : listverse.wpengine.netdna-cdn.com
Mosasaurus. Sumber : listverse.wpengine.netdna-cdn.com
9.  Mosasurus
Jika Liopleurodon adalah hewan besar, maka Mosasaurus adalah hewan kolosal.   menunjukkan bahwa Mosasaurus bisa mencapai sepanjang 15 meter, membuatnya menjadi salah satu predator laut terbesar dari periode Cretaceous.
Kepala Mosasaurus seperti  buaya, dilapisi dengan ratusan gigi setajam pisau cukur yang bisa membunuh bahkan musuh yang paling yang dilapisi kulit sangat tebal sekalipun.
Megalodon. Sumber : listverse.wpengine.netdna-cdn.com
Megalodon. Sumber : listverse.wpengine.netdna-cdn.com
10.  Megalodon
Inilah predator terbesar di dalam sejarah lautan, dan hiu terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. Seperti namanya, hewan ini memang besar, dan menakutkan.
Bayangkan saja, rahangnya bisa mencapai 1/2 meter dan memiliki gigi berjeruji seperti gergaji dengan 2 deretan gigi di atas dan bawah.  Hewan ini mampu mencapai panjang lebih dari 20 meter, lebih panjang dari sebuah bis, dan hidup di jaman Cenozoic.

Mongabay

Inilah 25 Primata Paling Terancam Punah di Dunia

Lemur leher merah yang hidupnya terancam akibat kehilangan habitat dan perburuan. Foto: Mathias Appel, Flickr: Public domain.
KASKUS - Setiap dua tahun sekali, para ahli primata menyusun laporan perihal 25 primata yang kondisinya kritis. Daftar tersebut berisikan informasi mengenai monyet, kera, dan lemur dari seluruh penjuru dunia yang pastinya terancam hidupnya.

Baru-baru ini, sebuah koalisi internasional yang terdiri dari 63 ahli konservasi primata – termasuk the Primate Specialist Group of IUCN’s Species Survival Commission (SSC), Bristol Zoological Society, the International Primatological Society (IPS), dan Conservation International – merilis edisi terbaru laporan “Primates in Peril: The world’s 25 most endangered primates” (Primata dalam bahaya besar: 25 primata paling terancam punah di dunia)

Ke-25 primata tersebut kelangsungan hidupnya sangat terancam akibat rusaknya habitat, diburu untuk dimakan, serta untuk diperdagangkan.

“Tujuan laporan ini menyoroti primata-primata yang paling berisiko punah, menarik perhatian publik, serta merangsang negara di dunia untuk berbuat lebih banyak. Terutama, menemukan sumber daya memadai guna menerapkan langkah-langkah konservasi yang paling mendesak” papar Russell Mittermeier, Ketua IUCN/ SSC Primate Specialist Group dan Executive Vice Chair dari Conservation International.

“Secara khusus, kami ingin mendorong pemerintah untuk melakukan langkah-langkah konservasi keanekaragaman hayati yang sangat dibutuhkan,” tambahnya.

Sebagaimana di 2012, Madagaskar lagi-lagi memuncaki daftar primata terancam dengan lima spesies. Indonesia dan Vietnam ada di peringkat ke-2 dan 3 masing-masing dengan tiga spesies yang diikuti Brasil dengan dua spesies terancam punah. Sedangkan Kamerun, Tiongkok, Kolombia, Pantai Gading, Republik Demokratik Kongo, Ekuador, Ghana, India, Kenya, Nigeria, Peru, Filipina, Sri Lanka, Tanzania dan Venezuela masing-masing memiliki satu spesies primata terancam punah.

Daftar ini mencakup spesies seperti lemur kerdil dari Pegunungan Lavasoa di Madagaskar, spesies yang baru ditemukan dua tahun lalu. Spesies lain dari Madagaskar dalam tercakup di daftar ini adalah lemur sportif utara, yang jumlahnya kurang dari 50 individu di alam liar. Bahkan, empat spesies – termasuk lemur kerdil pegunungan Lavasoa dan lutung suci Chamba dari India – dinobatkan sebagai pendatang baru dalam daftar tersebut.

Meski dalam daftar tersebut hanya menyoroti 25 spesies primata yang paling terancam punah, namun berdasarkan IUCN (International Union for Conservation of Nature), lebih setengah dari seluruh primata di dunia saat ini nasibnya juga terancam punah.

“Laporan ini cukup menakutkan bagi ahli primata dan publik luas, serta menyoroti ke mana para ahli konservasi harus memusatkan perhatian di tahun-tahun mendatang,” kata Christoph Schwitzer, Direktur Konservasi di Bristol Zoological Society. “Hal ini juga menunjukkan semakin pentingnya kolaborasi antara konservasi, penelitian, kebun binatang, dan komunitas internasional dalam perlindungan spesies dan habitat,” tambahnya.

Simon Stuart, Ketua Komisi Kelangsungan Hidup Spesies IUCN, menambahkan, “Kami sedang menghitung kembali semua primata dan kami menemukan ada kekhawatiran besar, situasinya mungkin akan lebih buruk bagi banyak spesies ikonik dan penting.”

Daftar 25 primata paling terancam punah di dunia 2014-2016

Madagaskar
Lemur kerdi Pegunungan Lavasoa (Cheirogaleus lavasoensis)     Madagaskar
Lemur bambu Lac Alaotra (Hapalemur alaotrensis)     Madagaskar
Lemur Leher Merah (Varecia rubra)     Madagaskar
Lemur Sportif Utara (Lepilemur septentrionalis)     Madagaskar
Perrier’s sifaka (Propithecus perrieri)     Madagaskar


Afrika
Galago kerdil Rondo (Galagoides rondoensis)     Tanzania
Monyet Roloway (Cercopithecus diana roloway)     Pantai Gading, Ghana
Preuss’s red colobus (Piliocolobus preussi)     Kamerun, Nigeria
Tana River red colobus (Piliocolobus rufomitratus)     Kenya
Gorila Grauer (Gorilla beringei graueri)     DRC




Asia
Orangutan Sumatran (Pongo abelii)     Indonesia (Sumatera)
Kukang jawa (Nycticebus javanicus)     Indonesia (Jawa)
Lutung hidung pesek ekor babi (Simias concolor)     Indonesia (Mentawai)
Lutung Delacour (Trachypithecus delacouri)     Vietnam
Lutung  Cat Ba (Trachypithecus p. poliocephalus)     Vietnam
Monyet hidung pesek Tonkin (Rhinopithecus avunculus)     Vietnam
Lutug suci Chamba (Semnopithecus ajax)     India
Lutung muka ungu Western (Semnopithecus vetulus nestor)     Sri Lanka
Gibbon Hainan (Nomascus hainanus)     Tiongkok
Tarsius Filipina (Carlito syrichta)     Filipina


Neotropics
Northern brown howler (Alouatta guariba guariba)     Brasil
Ka’apor capuchin (Cebus kaapori)     Brasil
Monyet titi San Martín (Callicebus oenanthe)     Peru
Monyet Laba-laba Brown  (Ateles hybridus)     Kolombia, Venezuela
Monyet laba-laba berkepala coklat Ekuador (Ateles fusciceps fusciceps)     Ekuador

Mongabay
 
Support : Kaskus Aceh | Kaskusaceh | Kaskus Aceh
Copyright © 2013. kaskusaceh-Lingkungan - All Rights Reserved
Template Created by Informasi Lingkunga Published by Kaskusaceh
Proudly powered by Blogger